Senin, 03 Maret 2008
Kamis, 08 November 2007
Advertising People is a DREAM-MAKER (part 1)
Lebaran kemarin kami sekeluarga berkunjung ke rumah kjerabat. Tanpa sengaja saya terlibat percakapan seru dengan salah satu kakak sepupu yang (kebetulan) kerjanya di luar negeri sebagai notaris kantor DUBES di salah satu negara nan jauh di sana.
Kebetulan dia tahu saya kuliah di salah satu 'universitas' yang namanya (kebetulan) terdengar seperti sekolah nasional di London, Inggris.
So, he opened conversation. Speaking English, added with lil british acsent,
"How's the college , mate? Is there got problem with chick there?"
Saya jawab aja,
"Fine! But, always f*ck*ng project, lah...!"
Rada keki, dia jawab,
"Anak kuliahan emang rada aneh. Dikasih tugas, kok malah ngeluh? Cari cewek aja udah," bilang dia dengan nada rada ngeledek.
"Terus gimana prospek menjadi Dream-maker? sukses?," Tanya dia lagi.
"Alhamdullilah! sejauh ini asik-asik aja," jawab saya santai.
Dream maker adalah persepsi awal diwaktu memilih jurusan periklanan. Dan sebelum gue berangkat daftar ulang, buat dapet kelas di jurusan tersebut. Dimana tepatnya berada di sebuah gedung 'raja wartawan' di bilangan kebon sirih, JAkarta Pusat, saya sempet ngobrol sebentar dengan dia lewat internet.
(Here's lil conversation i remember...)
Rendy: Cabut, bro...
Okta: Ok! mau kemana lo? Jalan sama cewek? Safe sex, bro!
Rendy: Kampret! Gue mau daftar kuliah ini? Emangnya daftar pake kondom apa?
Okta: Oh, iya! jadi ngambil jurusan apa lo?
Rendy: Advertising (A.K.A. DREAM-MAKER)
Okta : Dream-maker kurang asik dibanding wet-dream, bro..
Okta : hehehe...
Okta : Ok! God luck then, 'Dream-maker'
Kebetulan dia tahu saya kuliah di salah satu 'universitas' yang namanya (kebetulan) terdengar seperti sekolah nasional di London, Inggris.
So, he opened conversation. Speaking English, added with lil british acsent,
"How's the college , mate? Is there got problem with chick there?"
Saya jawab aja,
"Fine! But, always f*ck*ng project, lah...!"
Rada keki, dia jawab,
"Anak kuliahan emang rada aneh. Dikasih tugas, kok malah ngeluh? Cari cewek aja udah," bilang dia dengan nada rada ngeledek.
"Terus gimana prospek menjadi Dream-maker? sukses?," Tanya dia lagi.
"Alhamdullilah! sejauh ini asik-asik aja," jawab saya santai.
Dream maker adalah persepsi awal diwaktu memilih jurusan periklanan. Dan sebelum gue berangkat daftar ulang, buat dapet kelas di jurusan tersebut. Dimana tepatnya berada di sebuah gedung 'raja wartawan' di bilangan kebon sirih, JAkarta Pusat, saya sempet ngobrol sebentar dengan dia lewat internet.
(Here's lil conversation i remember...)
Rendy: Cabut, bro...
Okta: Ok! mau kemana lo? Jalan sama cewek? Safe sex, bro!
Rendy: Kampret! Gue mau daftar kuliah ini? Emangnya daftar pake kondom apa?
Okta: Oh, iya! jadi ngambil jurusan apa lo?
Rendy: Advertising (A.K.A. DREAM-MAKER)
Okta : Dream-maker kurang asik dibanding wet-dream, bro..
Okta : hehehe...
Okta : Ok! God luck then, 'Dream-maker'
Kamis, 01 November 2007
(Mungkinkah?) Para anggota dewan itu 'PINTER'?
Sewaktu jalan-jalan ke jogja kemaren, saya dan 2 orang temen sempet nyasar di sebuah pantai di bilangan Yogyakarta. Nyasar (itu) juga karena keteledoran, yang terjadi dan menyebabkan kami tertinggal bis terakhir. Ternyata bis terakhir di sana itu,
"Jam 6..!," Ujar ibu-ibu penjual jagung bakar di pinggiran parangkritis ramah.
'Santai!'
Pemikiran 'khas' orang Indo terbesit di kepala saya. Yah! Namanya (ngakunya) juga cinta tanah air. This is Indonesia, and not american or some europe cuntry. Paling jam 6 lewat masih ada bisnya. Makanya jam 6 kurang masih santai makan jagung bakar di tepi pantai sambil melihat matahari terbenam (orang bule sih nyebutnya 'sunset').
Tapi, sial! Apes! Na'as! (Atau apalah yang biasa disebut!) Bisnya udah nggak ada jam 6 lewat dikit! 2 atau 3 menit. Dan akhirnya kebingungan mencari kendaraan untuk pulang ke losmen, lalu mandi, dan makan gudeg di Malioboro.
Kenapa kejadian on time hanya terjadi di sebuah kota seperti Yogyakarta? Kenapa nggak di Jakarta? Apakah angka orang yang hidup disiplin hanya ada di kota-kota kecil saja? Nope! sebenenernya sama aja! Bedanya, mereka mempunyai pemikiran aneh namun (kadang) suka mulia.
Banyak orang yang mempunyai pemikiran aneh di otak yang dititipkan oleh 'sang maha pencipta'. Kenapa? Pasalnya pemikiran ingin membuat sesuatu hal (baik negative maupun positive) timbul karena suatu pemikiran aneh terbesit di kepala mereka.
Um... Berat yak bahasanya? Udah pasti! Seorang dosen, pernah berkata.
"Seorang Rendra maupun Khalil Gibran sekalipun hanya menggunakan suku kata yang sudah ada, tanpa harus menciptakannya terlebih dahulu," Ujar dia yakin.
Sipp...! Bener, bu..! Saya setuju. Sekarang (malahan) tidak hanya seorang sastrawan yang bisa mempergunakan suku kata yang sudah ada. Analoginya, politikus juga mempergunakan duit rakyat yang 'sudah ada'. Bener dong? Yap! Nggak salah memang, hanya saja agak ironis sedikit. Saya inget sewaktu Ayah saya disodorin duit 20 juta oleh orang daerah yang ingin proyeknya berjalan mulus. Maklum, Ayah saya kerja di instalasi negara. Tapi, berhubung beliau mempunyai ideologi 'jujur' serta hidup lurus-lurus saja, akhirnya duit itu dikebalikan.
Sempet bengong! Tapi saya hanya bisa tersenyum. Beliau ingin menunjukkan bahwa masih ada orang Indonesia yang jujur. Pas ditanya kenapa dia nggak ngikut seperti temen-temennya yang lain, dia jawab gini,
"alhamdulliah, pendidikan saya S 2, dan Agama saya S 3," celetuk dia santai.
Dan sekarang! saya ketemu jawabannya.
---Beberapa anggota DPR belum lama ini, tahun lalu lebih tepatnya pergi ke Sebuah negara asing dengan maksud untuk study banding sebuah RUU perjudian. Padahal, mereka yang berangkat itu, tidak mempunyai tugas untuk study banding di peraturan yang dibuat sama pemerintah. Dan di program tahunan yang direncanakan, tidak ada program untuk membuat RUU perjudian!
Bodoh! Karena mereka tidak seperti Rendra atau Gibran. pasalnya (analogi) mereka mengunakan suku kata yang tidak ada di mana-mana. Padahal, mereka itu (para anggota DPR) rata-rata orang pinter yang tau aturan main. Tapi kenapa begitu? Apakah mereka terlalu lama berkampanye di desa-desa? Sehingga pemikiran 'kolot' wong deso yang inginnya seneng doang tertanam di otak mereka? Saya ndak tahu! Soalnya otak saya belum 'sepinter' para anggota dewan.
"Jam 6..!," Ujar ibu-ibu penjual jagung bakar di pinggiran parangkritis ramah.
'Santai!'
Pemikiran 'khas' orang Indo terbesit di kepala saya. Yah! Namanya (ngakunya) juga cinta tanah air. This is Indonesia, and not american or some europe cuntry. Paling jam 6 lewat masih ada bisnya. Makanya jam 6 kurang masih santai makan jagung bakar di tepi pantai sambil melihat matahari terbenam (orang bule sih nyebutnya 'sunset').
Tapi, sial! Apes! Na'as! (Atau apalah yang biasa disebut!) Bisnya udah nggak ada jam 6 lewat dikit! 2 atau 3 menit. Dan akhirnya kebingungan mencari kendaraan untuk pulang ke losmen, lalu mandi, dan makan gudeg di Malioboro.
Kenapa kejadian on time hanya terjadi di sebuah kota seperti Yogyakarta? Kenapa nggak di Jakarta? Apakah angka orang yang hidup disiplin hanya ada di kota-kota kecil saja? Nope! sebenenernya sama aja! Bedanya, mereka mempunyai pemikiran aneh namun (kadang) suka mulia.
Banyak orang yang mempunyai pemikiran aneh di otak yang dititipkan oleh 'sang maha pencipta'. Kenapa? Pasalnya pemikiran ingin membuat sesuatu hal (baik negative maupun positive) timbul karena suatu pemikiran aneh terbesit di kepala mereka.
Um... Berat yak bahasanya? Udah pasti! Seorang dosen, pernah berkata.
"Seorang Rendra maupun Khalil Gibran sekalipun hanya menggunakan suku kata yang sudah ada, tanpa harus menciptakannya terlebih dahulu," Ujar dia yakin.
Sipp...! Bener, bu..! Saya setuju. Sekarang (malahan) tidak hanya seorang sastrawan yang bisa mempergunakan suku kata yang sudah ada. Analoginya, politikus juga mempergunakan duit rakyat yang 'sudah ada'. Bener dong? Yap! Nggak salah memang, hanya saja agak ironis sedikit. Saya inget sewaktu Ayah saya disodorin duit 20 juta oleh orang daerah yang ingin proyeknya berjalan mulus. Maklum, Ayah saya kerja di instalasi negara. Tapi, berhubung beliau mempunyai ideologi 'jujur' serta hidup lurus-lurus saja, akhirnya duit itu dikebalikan.
Sempet bengong! Tapi saya hanya bisa tersenyum. Beliau ingin menunjukkan bahwa masih ada orang Indonesia yang jujur. Pas ditanya kenapa dia nggak ngikut seperti temen-temennya yang lain, dia jawab gini,
"alhamdulliah, pendidikan saya S 2, dan Agama saya S 3," celetuk dia santai.
Dan sekarang! saya ketemu jawabannya.
---Beberapa anggota DPR belum lama ini, tahun lalu lebih tepatnya pergi ke Sebuah negara asing dengan maksud untuk study banding sebuah RUU perjudian. Padahal, mereka yang berangkat itu, tidak mempunyai tugas untuk study banding di peraturan yang dibuat sama pemerintah. Dan di program tahunan yang direncanakan, tidak ada program untuk membuat RUU perjudian!
Bodoh! Karena mereka tidak seperti Rendra atau Gibran. pasalnya (analogi) mereka mengunakan suku kata yang tidak ada di mana-mana. Padahal, mereka itu (para anggota DPR) rata-rata orang pinter yang tau aturan main. Tapi kenapa begitu? Apakah mereka terlalu lama berkampanye di desa-desa? Sehingga pemikiran 'kolot' wong deso yang inginnya seneng doang tertanam di otak mereka? Saya ndak tahu! Soalnya otak saya belum 'sepinter' para anggota dewan.
Langganan:
Entri (Atom)